TEROR KAKI SERIBU
Selama ini kita tahu bahwa hewan yang mendapat julukan kaki seribu adalah keluwing atau luwing juga kelabang dan beberapa jenis hewan dengan ciri fisik serupa. Hewan yang berbentuk tabung dengan panjang sekira 5-10 cm, memiliki sepasang kaki di tiap ruas abdomen-nya. Entah ada berapa banyak jumlah kaki sebenarnya. Karena memang banyak untuk lebih mudah mengingatnya hewan ini disebut kaki seribu. Dalam klasifikasi ilmiah hewan ini masuk dalam fillum Arthropoda sub fillum Myriapoda.
Namun akhir - akhir ini sering saya jumpai hewan serupa dengan luwing tetapi ukurannya jauh lebih kecil. Berwarna hitam atau kecoklatan dengan bintik - bintik kuning di sisi kanan kiri tubuhnya. Pertama kali melihat hewan ini saya merasa heran, sebenarnya hewan apa itu. Bukan luwing, tetapi berkaki banyak. Lebih mirip dengan ulat gagak, tapi ukurannya lebih besar. Saya mencoba browsing untuk mencari informasi tentang hewan ini, tetapi saya belum menemukan literatur yang sesuai. Warga disekitar rumah saya menyebutnya sebagai ulat gagak. Saya sempat berfikir apakah mungkin memang hewan ini merupakan ulat gagak yang mengalami mutasi genetik. Karena munculnya belum lama. Atau mungkin saya saja yang baru tahu.
Hewan ini sebenarnya tidak berbahaya seperti halnya kelabang. Hewan ini cenderung pemalu, karena apabila mendapat sentuhan hewan ini langsung menggulung badannya, sama halnya luwing. Mungkin ini merupakan bentuk proteksi diri dari bahaya yang mungkin datang ya. Tetapi walaupun tidak berbahaya kemunculan hewan ini sangat mengganggu pemandangan. Kalau melihat bentuknya yang gilig dan memperhatikan kakinya yang banyak saya merasa geli sendiri. Selain menjijikkan hewan ini juga menimbulkan bau yang tidak sedap apabila kita bunuh atau tidak sengaja terinjak. Inilah yang membuat saya enggan membunuhnya apabila saya jumpai hewan ini disekitar rumah.
Hewan kaki seribu ini sering muncul di pagi hari atau di tempat yang lembab. Hewan ini akan bertambah banyak jumlahnya tatkala memasuki musim penghujan. Berkembang biak dengan bertelur, dan menjadi larva - larva kecil sebelum menjadi ulat gagak dewasa. Sarangnya sekitar 3-4 cm dibawah tanah. Karena habitatnya memang di tempat yang lembab, maka tak heran kalau hewan ini muncul di sekitar kamar mandi, selokan, dibawah tumpukam batu - batuan, maupun di sekitar kerumunan tanaman.
Menjelang siang, sekira pukul 10 dan seterusnya secara tiba - tiba saja hewan ini menghilang, karena tidak tahan dengan panas matahari. Saya pernah mencoba melempar beberapa ulat gagak ini ke aspal depan rumah di siang hari ketika panas menyengat. Dan hanya dalam hitungan detik saja ulat gagak ini mati.
Pada musim penghujan yang lalu kemunculan ulat gagak ini didaerah tempat tinggal saya sungguh luar biasa. Apalagi dipagi hari. Muncul di kebun, di jalan daj dimana - mana. Bahkan ada yang sampai masuk rumah. Kalau sudah begini pasti berbahaya. Dikhawatirkan bisa masuk ke telinga saat kita tidur. Naudzubilah jangan sampai ya... Hal serupa ternyata juga terjadi di beberapa daerah di wilayah Tulungagung. Wah sudah seperti teror saja bukan?
Walaupun ulat ini tidak berbahaya tapi karena mengganggu keindahan ada baiknya ulat ini dibasmi. Menurut informasi dari berbagai sumber ulat ini bisa dibasmi dengan menggunakan furadan, tetapi penggunaan furadan ini bisa mengganggu ekosistem apabila kita tidak tahu dosis yang sesuai saat menggunakannya. Bisa juga kita gunakan karbol untuk disekitar tempat - tempat munculnya ulat gagak ini. Karena hewan ini tidak menyukai bau yang menyengat.
Mantap. Inspiratif
BalasHapusTerima kasih Pak 😇
Hapus