SIAPA MENANAM PASTI AKAN MEMANEN

     Ungkapan siapa menanam pasti akan memanen ini saya dapatkan dari bapak dan seorang teman senior saya. Filosofi dari ungkapan ini berarti apabila kita melakukan suatu perbuatan maka kita akan menerima dampak dari perbuatan kita tersebut. Apabila kita melakukan suatu kebaikan maka suatu saat kita akan memperoleh manfaat dari kebaikan yang kita lakukan itu. Demikian pula apabila kita melakukan keburukan maka suatu saat akan timbul mudharat dari keburukan yang pernah kita lakukan. Dan bisa jadi yang memanen hasil perbuatan yang kita lakukan itu bukan kita sendiri melainkan anak cucu kita. Maka dari itu ciptakanlah kebaikan, supaya kita dan anak cucu kita bisa memanen hasil dari kebaikan yang pernah kita lakukan. 
     Baru - baru ini secara kebetulan dalam suatu forum saya bertemu dengan kawan lama. Seorang kawan yang terpaut jauh usianya diatas saya. Sebut saja namanya Bu Ana. Saya mengenal beliau karena kami sama - sama mengabdi sebagai tenaga honorer, tetapi berbeda lembaga. Beliau mengabdi sudah cukup lama, jauh sebelum saya belajar mengabdi sebagai buruh pendidikan. Namun ternyata nasib baik belum berpihak pada karirnya. Entah bagaimana jalan ceritanya ketika rekan - rekan seangkatannya satu persatu mulai mendapatkan kejelasan nasib dari pemerintah namun beliau tidak atau belum mendapatkan kesempatan baik tersebut.  
     Biarpun begitu Bu Ana tetap semangat mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Masih teringat di awal saya mengenal Bu Ana, beliau berangkat mengajar dari rumahnya naik sepeda pancal melintasi satu desa berjarak sekitar 3 km. Sesampainya di desa kedua Bu Ana menitipkan sepedanya di salah satu rumah penduduk. Kemudian beliau akan nebeng rekan - rekan pengajar lain yang mengendarai sepeda motor ataupun mobil yang sejalur dengan tempat beliau mengajar. Tidak ada akses angkutan umum menuju ke tempat beliau mengajar. Ini beliau jalani selama bertahun - tahun. Begitupun ketika beliau melanjutkan kuliah S1 Pendidikan di kota sebelah (karena waktu itu beliau masih berijazah Diploma), Bu Ana juga selalu nebeng kepada temannya. 
     Sungguh saya sangat mengapresiasi perjuangan pengabdiannya itu. Tidak banyak orang yang bisa bertahan dalam situasi seperti itu. Kenapa Bu Ana selalu nebeng temannya? Ya memang karena beliau tidak punya kendaraan bermesin. Kalau melihat kehidupan keluarganyapun saya merasa kasihan, dengan dua anak yang masih sekolah dan penghasilan suaminya yang tidak tentu. 
     Lama tidak mendengar kabar beliau, hingga beberapa waktu lalu saya bertemu dengan Bu Ana lagi dalam suatu forum. Seperti layaknya teman yang lama tidak berjumpa kami saling bertanya kabar. Bu Ana masih tetap mengabdi sebagai tenaga honorer di tempat yang sama. Saya sempat terharu mendengar jawaban - jawaban dari pertanyaan yang saya lontarkan kepada beliau. Sekarang putri pertamanya sudah memasuki tahun kedua kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Bu Ana mengisahkan beliau sempat dilanda kesedihan tatkala merasa tidak akan mampu untuk menguliahkan putrinya. Alhamdulillah, mungkin inilah hasil panenan Bu Ana atas keikhlasan pengabdiannyan di dunia pendidikan selama ini. Putrinya yang memang cerdas mendapatkan beasiswa bidikmisi sehingga bisa melanjutkan kuliah. Sementara seorang lagi putrinya bersekolah di salah satu sekolah kejuruan negeri di kota ini. Kalau tidak ingat ada banyak orang pada waktu itu mungkin air mata saya jatuh. Untung saja saya bisa menguasai emosi pada waktu itu. 
     Ketika forum yang kami ikuti berakhir dan kami bersiap pulang, saya lihat Bu Ana menuju tempat parkir seorang diri kemudian menuntun sepeda motornya dan kemudian berpamitan untuk pulang terlebih dahulu kepada saya. Alhamdulillah, lagi - lagi saya ikut bersyukur dalam hati. Semoga saja kisah nyata dari Bu Ana ini bisa menginspirasi kita untuk selalu berbuat kebaikan, dengan ikhlas tentunya. Semoga juga bisa membuat kita senantiasa bersyukur dengan apa yang kita miliki. 

Dhina 22072020

Komentar

  1. Subhanalloh.. .. Perjuangan yg luar biasa, ternyata masih ada orang yg lbh prihatin dr sy, sy dulu jg sering nebeng teman setia intuk pergi ke Sekolahan, bahkan organisasi,bedanya sy ada akses transportasi ke sekolahan, tapi cukup lama menunggu angkutan, Alhamdulillah kini walau tetp honoret, sy wajib sll bersyukur dimudahkan Alloh dlm berjuang di pendidikan. He he terima kasih Bu Dina. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 bu.... Alhamdulillah bila menyukai tulisan saya. Saya jg masih honorer bu...kunci nya ttp bersyukur njih bu dan semangat 😊💪

      Hapus
  2. Luar biasa. Bukan hanya mengispirasi, tapi sekaligus memperkuat diri untuk berbuat kebaikan bagi kemanusiaan. Tak usah berhitung tentang imbalan. Itu urusan Tuhan.

    BalasHapus

Posting Komentar