MALAM TERAKHIR

    Waktu menunjukkan bakda sholat maghrib, bertepatan malam Jum'at Pahing. Aku terbangun dari rabahanku dan sepertinya aku baru saja terlelap selama beberapa menit. Lumayan mengobati rasa capekku. Ku siapkan segala keperluanku lalu ku keluarkan sepeda motorku. Suasanat erasa hening, sepi, sinklu, sangat tidak nyaman rasa di hati. Setelah mengunci pintu, karna tidak ada siapapun dirumah, kudorong motorku ke halaman, kulihat daun - daun kering berserakan di halaman. Sudah beberapa hari aku disibukkan dengan raport online sehingga halaman rumahku tidak terjamah. Entah kenapa hatiku semakin gundah saja. Kututup pagar rumah lalu kupacu motorku menuju rumah mertua yang ada di desa sebelah. 
     Sudah beberapa hari anakku menginap dirumah mertua. Ditemani oleh keponakan - keponakanku. Nampaknya mereka sangat menikmati liburan semester di rumah nenek kakeknya. Sesampai dirumah mertua dan berbincang sejenak, aq bersama suami segera berangkat menuju rumah sakit, tempat bapak dirawat. Malam itu adalah malam ke dua bapak dirawat, setelah dokter memvonis bapak menderita jantung koroner. Bulan depan sudah dijadwalkan bapak akan melakukan pemasangan ring jantung. 
     Sesampai di rumah sakit kudapati bapak sendirian di kamar sedang tidur. Mungkin ibu sedang sholat di musolla. Tak mau mengganggu istirahat bapak, suami pamitan pulang tanpa menyapa bapak. Tak lama kemudian ibu datang. Rupanya ibu baru saja dari apotik untuk mengambil obat. Kemudian ibu menceritakan keadaan bapak hari itu sudah berangsur semakin membaik, dan esoknya bisa pindah ke singgle room,karena ada pasien yang akan pulang. Saat itu memang rumah sakit penuh dengan pasien sehingga kami hanya kebagian kamar untuk 2 pasien. 
     Bapak masih saja tidur. Ibukupun segera bersiap tidur karena sudah malam, dan pastinya beliau kecapekan seharian menemani bapak. Walaupun tadi siangnya adikku juga menemani ibu menjaga bapak, tapi tetap saja yang namanya menunggu orang sakit itu pasti capek. 
     Pukul 23 lewat, aku masih saja terjaga, bapak, ibu, pasien yang sekamar dengan bapak dan 2 penunggunya sudah terlelap semua. Aku masih disibukkan dengan ponselku. Tiba - tiba bapak terbangun. Duduk diranjang pasien. Kemudian kutanya apakah bapak haus atau lapar atau apa yang dirasakan. Bapak hanya menggeleng dan bilang tidak. Kemudian bapak turun dari ranjang. Ternyata bapak mau ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sebenarnya bapak tidak diperbolehkan untuk banyak gerak, apalagi ke kamar mandi, walaupun kamar mandi ada di dalam kamar. Tetapi bapak tidak bisa dan tidak mau untuk buang air di pispot yang sudah disediakan. Kami sudah membujuk tapi tidak berhasil. Bapak memang begitu orangnya, selalu keras kepala, melakukan sesuatu harus sesuai keinginan hatinya. Ya sudahlah, aku turuti saja. 
     Kuambil tabung infus yang tergantung di tiang infus dan kuantar bapak ke kamar mandi yang berdempetan dengan ranjang bapak. Hanya 5 - 6 langkah mungkin. Setelah selesai buang air, bapak langsung bergegas dengan cepat buru - buru menuju ranjang kembali. Kuingatkan agar pelan saja jalannya. Tapi tetap saja bapak berjalan dengan cepat. Setelah naik ke ranjang. Tiba - tiba saja bapak mengalami sesak nafas. Kutenangkan bapak, namun tetap saja bapak kesulitan bernafas. Aku panik dan kubangunkan ibu.
     Setelah ibu bangun, aku langsung lari ke ruang jaga perawat. Segera kuceriterakan keadaan bapak, kemudian aku kembali ke kamar diikuti seorang perawat. Ya Allah aku semakin panik dan takut. Bapak terlihat semakin kesulitan bernafas dan keasakitan. Pasien teman sekamar bapak beserta 2 penunggunyapun ikut terbangun. 
    Pasien segera melakukan pertolongan, entah apa aku tidak tau, karna yang kuperhatikan hanya bapak yang terus dibimbing ibu untuk istigfar dan apapun untuk menyebut asma Allah. Alhamdulillah ditengah keadaan yang darurat itu bapak masih bisa melafalkan asma Allah dengan benar. Bahkan suara bapak sangat keras, sehingga tetangga - tetangga kamar mulai keluar kamar melihat apa yang terjadi. 
    Aku sudah menangis saja. Suamiku sudah datang kembali. Ketika kutelepon dan ku ceriterakan keadaan bapak, ternyata suami baru saja sampai rumah. Dan kemudian berangkat lagi menuju rumah sakit. Bapak terus menyebut asma Allah dengan suara keras san sesekali menyampaikan sesuatu yang aku dan semua orang di ruangan itu tidak tahu apa artinya. Perawat tetap melakukan pertolongan, memasang selang oksigen, membawa alat entah apa itu, seperti perekam detak jantung atau apalah. Aku kurang tahu Dokter sudah datang dan segera melakukan tindakan medis. Ditengah kepanikan ibu membuka buku yasin tahlil dan membacanya dengan benar. Aku sangat kagum dengan ibu. Semetara pasien yang sekamar dengan bapak dipindah kamarkan.   
    Seorang perawat menyampaikan bahwa bapak harus segera dibawa ke ruang ICU. Tanpa kubaca isinya dan tanpa berpikir panjang langsung kutandatangani berkas persetujuannya. Perawat segera mempersiapkan pemindahan bapak ke ruang ICU. Bapak masih saja pada keadaannya. Aku terus berada disampingnya, sambil terus aku sebut asma - asma Allah. Bapak juga terus mengucapkannya sambil menahan sakit. Sambil sesekali mengucapkan kata - kata, bertanya, atau menyuruh sesuatu yang kemudian kutanyakan tapi tetap saja tidak bisa kupahami apakah yang disampaikan bapak.
     Sejurus kemudian keadaan mulai terkendali, kulihat bapak sudah tidak teraengal - sengal. Aku juga mulai tenang. Dokter terus memeriksa, perawat masih setia membantu pekerjaan dokter. Ibu masih dengan khusu' dengan buku yasin tahlilnya disamping Bapak. Kuperhatikan setiap gerak gerik dokter dan perawat. Kemudian kuperhatikan bapak yang mulai tenang. Kuperhatikan terus matanya yang memang sudah terpejam sejak tadi. Lalu kulihat Bapak bernafas dari mulutnya. Aku masih saja belum memahami keadaan itu, sampai dokter menyampaikan sesuatu kepada perawat aku masih saja belum paham. Namun ketika dokter menghadap ke aku, suami, pripun dan ibuku sambil mengucapkan kata maaf, aq mulai berfirasat tidak baik. Belum sampai selesai dokter berbicara, tenggorokanku terasa tercekat, dan tanpa kusadari aku bertiak cuku keras. Meneriakkan kata "BAPAAAKK". sedetik kemuadian aku menangis sejadi - jadinya. 
     Innalillahi wa innailaihi roji'un. Bapakku pergi menghadap Allah di hari Kamis Legi, malam Jum'at Pahing tanggal 5 Juli 2018 pukul 23.40. Rasanya tidak bisa kupercaya, tidak bisa kuterima keadaan waktu itu. Sempat aku salahkan perawat dan dokter kenapa tidak lebih cepat lagi dalam menangani bapak. Tapi bagaimanapun itu adalah takdir. Walau berat hati harus bisa kita terima dengan ikhlas. Tapi aku bersyukur bisa menemani Bapak menjelang tutup usia. Bisa menyaksikan saat - saat terakhir dalam kehidupan Bapak. Bersyukur bapak bisa menyebut asma Allah di akhir hayatnya. Bersyukur bapak menghembuskan nafas terakhirnya di malam Jum'at yang insyaAllah adalah malam yang baik. Dijamin surganya. Semoga. Aamiin aamiin aamiin ya robbal alamiin.  
     Hari ini tepat 2 tahun sudah bapak meninggalkam kami. Sore kemarin kami mengadakan kirim doa dan sedekah memperingati pendak dua bapak. Kenangan - kenangan bersama bapak selalu terlintas, termasuk malam terahir bersama Bapak. Kadang aku merasa Bapak sedang bepergian dan akan pulang kembali. Aku hanya berharap semoga aku bisa menjadi anak yang sholehah, bisa membahagiakan Bapak walau kami terpisah oleh alam yang berbeda. Semoga Bapak ditempatkan di surganya Allah SWT. Aamiin Aamiin Aamiin yaa robbal aalaamiin. 
     

Komentar