GEMAH SEMI NORMAL

      Sekitar seminggu yang lalu, saya sekeluarga mengadakan piknik dadakan. Sebenarnya tidak seratus persen dadakan, karena sudah direncanakan oleh adik ipar. Adik yang tinggal diluar kota sudah berencana mudik setelah lebaran tahun ini tidak mudik. Begitu tau new normal, adik sekeluarga mudik. Rupanya salah satu agenda mudik yang sudah direncanakannya adalah mengunjungi Pantai Gemah. Ketika mengutarakan keinginannya itu, saya sebenarnya kurang setuju, karena saya merasa masih was - was dengan adanya pandemi walaupun dimana - mana sudah digembar-gemborkan new normal. Dan saya tidak yakin pemerintah daerah sudah membuka lokasi wisata pantai di kota ini. 
      Dengan bismillah yakin akan baik - baik saja, akhirnya jadi juga kami berangkat mantai. Saya dan suami tidak bisa menolak untuk tidak berangkat apalagi mendengar rengekan anak - anak (para ponakan dan anak saya sendiri). Mungkin mereka rindu jalan - jalan, karena memang sejak adanya pandemi korona kami tidak pernah mengajak anak - anak untuk jalan - jalan melepas kepenatan. Setiap hari dirumah saja dan mengerjakan tugas sekolah pastilah mebuat mereka merasa sangat bosan.
      Alhamdulillah perjalanan kami lancar tanpa hambatan. Sengaja kami memilih jalan pintas agar cepat samapai di lokasi, tanpa melalui pos pengecekan di perbatasan kabupaten. Sepanjang jalur lintas selatan yang kami lalui kami hanya berpapasan dengan beberapa mobil saja. Ketika melewati celah jalan yang bisa memperlihatkan suasana pantai, terlihat air laut tidak berwarna kebiruan tapi malah kecoklatan. Saya berpikir jangan - jangan terjadi pergeseran bumi di dalam lautan yang bisa berpotensi tsunami. Namun segera saya tepis pemikiran itu, tidak mau larut dalam kekhawatiran.
      Mendekati pintu masuk Pantai Gemah terlihat banyak sekali mobil - mobil parkir di pinggir jalan. Ternyata pintu masuk tidak di buka. Terpasang palang penutup pintu. Tidak ada petugas yang biasa nya memberikan tiket dan melakukan pengecekan. Kami heran. Lha terus para pemilik mobil yang sedang parkir itu kemana? Rupanya karena lokasi wisata ini belum dibuka untuk umum, para pengunjung nekat masuk melalui celah portal yang bisa di lewati. 
      Kami putuskan untuk tidak ikut parkir dan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Klatak yang tidak jauh lokasinya dari Pantai Gemah. Berbeda dengan Gemah, ternyata lokasi Klatak sudah dibuka untuk umum. Kami putuskan untuk masuk. Di pintu masuk petugas memberhentikan mobil kami, mengecek jumlah penumpang di mobil kami, mempersilakan memakai masker dan mengecek satu persatu suhu tubuh dari kami menggunakan thermogun. Setelah semua dirasa oke dan HTM sudah kami bayar kami dipersilakan masuk untuk parkir. 
      Begitu turun dari mobil anak - anak langsung berhamburan keluar. Mereka sangat senang melihat laut. Tidak terlalu banyak pengunjung, sudah pasti ini dampak dari pandemi. Seperti halnya saya sebelum berangkat, pasti orang - orang juga masih merasa was - was untuk mengunjungi tempat wisata. Warung - warung, kedai, foodcourt masih banyak yang tutuo, hanya beberapa saja yang telihat buka.  
      Pinggir pantai tampak kotor, banyak ranting - rating dan sampah berserakan disana sini. Air laut berwarna kecoklatan. Saya baru teringat apakah mungkin di sepanjang pantai selatan terjadi banjir seperti yang pernah diberitakan di media sosial. Walau yang diberitakan adalah Pantai Sine, tetapi bukankah Pantai Gemah, Klatak dan Sine berada dalam satu deretan pantai yang sama. Ombak laut juga lumayan tinggi. Karena khawatir, kami melarang anak - anak untuk bermain air, mereka hanya kami ijinkan untuk bermain pasir agak jauh dari bibir pantai.
      Puas bermain - main kurang lebih satu jam kami ajak anak - anak pulang. Karena memang rencana kami tidak akan berlama - lama di pantai. Akhirnya diputuskan untuk pulang. Namun ketika melewati kembali lokasi Pantai Gemah, keponakan minta untuk mampir sebentar. Lagi - lagi kami turuti. Dan akhirnya kami ikut - ikutan parkir di pinggir jalan dan masuk melaui celah - celah portal. Haduuh ... Saya yakin hal - hal seperti ini hanya terjadi di Indonesia, di luar negeri tidak akan atau sulit kita temui kejadian seperti ini. Sebenarnya sangat memalukan bukan? Tapi ya sudahlah hehehe ...  
      Sesampai di pinggir pantai, saya terkejut ternyata pengunjung banyak sekali, tidak seperti di Pantai Klatak. Padahal pintu masuk ditutup, mestinya hanya orang - orang bandel seperti saya yang bisa masuk, tetapi ternyata banyak pengunjung dengan motor juga bisa masuk. Lewat mana ya mereka, kami bertanya - tanya. Pedagang kaki lima sudah banyak yang berjualan, persewaan ATV dan motor trail pun sudah beroperasi. Suasana ramai seperti hari - hari biasa sebelum pandemi. Sungguh sangat ironi, lokasi belum dibuka, dari luar terlihat masih sepi tetapi di dalamnya aktivitas tidak pernah sepi. Dan kami sekeluarga termasuk salah satu dari yang ikut meramaikan suasana saat itu. 

Komentar

  1. Keinginan mantai warga ternyata tak bisa di bendung... Begitulah upaya menggapai yg namanya senang n bahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah Pak, sudah ditahan selama 3 bulan lebih.. Tp kalau saya sendiri sebenarnya masih bisa bertahan 😀

      Hapus
  2. Refresing adalah salah satu kebutuhan.. memang sesekali harus jalan" bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Pak Pri ... Habis jalan2 memang rasanya fresh

      Hapus
  3. refresing menghasilkan tulisan...

    BalasHapus

Posting Komentar