Menghitung Waktu Menuju Kemenangan
Hari ini hari ke 30, bulan ramadhan tahun ini. Tidak seperti tahun - tahun sebelumnya, kali ini tidak ada persiapan khusus. Biasanya mulai pagi saya sudah beraktifitas untuk keperluan lebaran. Bersih - bersih rumah, menyiapkan toples, belanja bahan - bahan makanan untuk persediaan selama lebaran, menyiapkan amplop - amplop lucu beserta isinya yang baru ditukar di bank dan lain - lain.
Pagi ini saya masih saja berdiam di dalam rumah menyibukkan diri dengan ponsel sambil mengawasi anak ganteng saya bermain di dalam rumah. Belum ada keinginan untuk beranjak. Padahal sebenarnya ada beberapa rencana yang ingin saya lakukan.
Lagi - lagi ini karena dampak dari Covid 19. Adanya himbauan dari pemerintah untuk tetap lebaran dirumah saja, membuat saya tidak ingin begitu merepotkan diri. Persiapan tetap ada tetapi seadanya saja. Masih membeli beberapa kue dagangan teman dan memesan bahan makanan dari tetangga. Tidak membeli baju baru, dan tidak membelikan baju baru maupun peralatan sholat untuk anak, suami, ponakan, orang tua dan mertua.
Bagi saya ramadhan dan lebaran tahun ini penuh keprihatinan, saya prihatin dengan keadaan yang melanda dunia kesehatan. Apalagi mengetahui pemberitaan makin bertambahnya pasien maupun korban meninggal akibat covid 19. Melihat pengorbanan para nakes yang setiap hari harus berpanas - panas memakai APD, membuat saya tidak berhasrat untuk berbelanja pakaian.
Saya heran dalam keadaan seperti ini masih saja toko - toko baju yang penuh sesak dengan pembeli. Tidak hanya di kota saja, di desa saya pun toko - toko baju semakin mendekati lebaran semakin ramai pembeli saja. Dalam batin saya bertanya "apa mereka tidak ada rasa khawatir berada dalam kerumunan". Bahkan adanya kejadian beberapa hari yang lalu, tentang penemuan pasien positif rapid test di salah satu department store di kota ini tidak menyurutkan jumlah para pemburu baju baru di tempat lain. Astagfirlah.....
Yang saya takutkan adalah ketika para nakes sepertinya mulai merasa jenuh dengan keadaan di negeri kita ini. Saya bisa memakluminya. Bisa dibayangkan seandainya saya berada di posisi mereka, tentu juga akan merasa jengkel melihat masyarakat yang masih bandel saja tidak mengindahkan himbauan pemerintah. Pasti para nakes berpikir sia - sia pengorbanan mereka selama ini. Di beberapa media sosial saya baca ungkapan kekecewaan dari para nakes, hingga viral ungkapan "Indonesia terserah"
Tanggal 2 bulan depan merupakan hari masuk untuk siswa - siswa yang sudah melakukan pembelajaran dari rumah selama hampir 3 bulan. Namun saya sendiri masih merasa was - was dan belum siap. Belum siap karena menurut saya keadaan belum semakin membaik.
Sebenarnya saya tidak menyalahkan keadaan, memang saat ini kita sedang diuji dengan adanya pandemi covid 19. Sudah seharusnya kita sebagai kaum muslimin bisa menjalaninya dengan ikhlas. Walaupun banyak dampak negatif dari pandemi covid 19 tetapi tidak sedikit pula dampak positif yang ditimbulkan. Meski demikian kita harus tetap waspada, tetap jaga kesehatan sesuai dengan protokol yang dianjurkan pemerintah dan terus memohon supaya pandemi ini bisa segera berakhir.
Mengingatkan kembali himbauan pemerintah malam nanti tidak ada takbir keliling, sholat ied ditiadakan, kalaupun ada yang melakukan harus sesuai dengan prosedur dan protokol kesehatan, saya sendiri memilih untuk tidak ikut sholat ied untuk tahun ini, dan silaturahmi dilakukan melalui ponsel pintar saja. Semoga tahun depan kita bisa menjalankan ibadah di bulan ramadhan dengan tenanh dan merayakan lebaran dengan meriah. Aamiin.
Dhina-30 Ramadhan 1441 H
Komentar
Posting Komentar